Category Archives: fpti kab. cirebon

Gunung Semeru

Bromo-Semeru

Bromo-Semeru

Gunung Semeru adalah gunung suci kediaman para Dewa, merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 M dpl (puncak Mahameru). Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir Nopember 1973. Gunung ini masuk dalam kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru.

Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.
Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang- pergi. Sebaiknya membawa bekal untuk satu minggu karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kecapaian setelah mendaki gunung semeru.
Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota malang atau lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang.
Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, untuk umum dikenakan biaya Rp.6.500,- per orang, sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp.5.500,- per orang.
Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) pani (1 ha) dan ranu regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.

Bromo-Semeru

Bromo-Semeru

 

JALUR WATU REJENG

Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pani, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.
Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.
Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.
Sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman.
Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir.
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.
Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember – Januari sering ada badai.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.

Bromo-Semeru-

Bromo-Semeru-

 

JALUR GUNUNG AYEK-AYEK

Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran.
Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.
Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.
Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.
Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis. Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.
Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas.
Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut danau Ranu Kumbolo.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan Nopember – April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 – 4 derajat celcius.
Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang – alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.

jalur Resmi Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani

 

jalur Resmi Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani Ada beberapa jalur utama dan resmi yang sering dugunakan oleh pendaki ke Gunung Rinjani. Berikut jalur-jalur tersebut: Jalur Sembalun – Mataram – Sembalun (± 4-5 jam kendaraan umum) – Sembalun Lawang – Puncak Gunung Rinjani ( ± 7 Jam Jalan Kaki) – Sembalun Lawang – Danau Segara Anak (± 2-3 Jam Jalan Kaki ) Jalur Senaru – Mataram – Senaru (± 3-4 Jam Kendaraan Umum) – Senaru – Danau Segara Anak (± 7-10 Jam Jalan Kaki) – Danau Segara Anak – Pelawangan Sembalun (± 4 Jam Jalan Kaki) – Pelawangan Sembalun – Puncak Rinjani (± 2-3 Jam Jalan Kaki) Jalur Torean – Mataram – Torean (± 4-5 Jam Kendaraan Umum) – Torean – Danau Segara Anak (± 8-9 Jam Jalan Kaki) Jalur Senaru Jalur pendakian Senaru merupakan jalur pendakian paling ramai, hal ini disebabkan selain sebagai jalur wisata treking juga kerap dipergunakan sebagai jalur pendakian oleh masyarakat adat yang akan melakukan ritual adat/keagamaan di puncak Rinjani atau Danau Segara Anak. Pusat Pendakian Terpadu (Rinjani Trek Centre) Senaru Rute pendakian yaitu Senaru – Pelawangan Senaru – Danau Segara Anak dengan berjalan kaki memakan waktu ± 10 – 12 jam melalui trail wisata yang berada dalam hutan primer dan sepanjang jalan trail telah disediakan sarana peristirahatan pada setiap pos. Dari pintu gerbang Senaru sampai Danau Segara Anak terdapat tiga pos. Sepanjang jalan trail pengunjung dapat menikmati keindahan hutan belantara dan bebatuan yang menakjubkan. Untuk memperoleh informasi mengenai pendakian Gunung Rinjani telah disediakan Pusat Pendakian Terpadu (Rinjani Trek Centre) atas kerjasama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dengan NZAID (New Zealand Asistance International Development), Dari Danau Segara Anak bila anda ingin melanjutkan perjalan ke Puncak Gunung Rnjani anda harus menuju ke pelawangan sembalun yang membutuhkan waktu ± 4 Jam, dari pelawangan sembalun ke Pucak Rinjani membutuhkan waktu 4 – 5 Jam. Pendakian ke puncak umumnya dilakukan pada pukul 02 dinihari, ini dimaksudkan agar pada pagi harinya dapat menikmati matahari terbit (Sunrise) dari Pucak Gunung Rinjani serta dapat menikmati pemandangan seluruh pulau Lombok bahkan pulau Bali apabila cuaca cerah. Jalur Sembalun Jalur Sembalun merupakan jalur yang ramai dilalui oleh pengunjung terutama oleh para penggemar treking. Rute yang dilalui adalah gerbang sembalun lawang – pelawangan sembalun-puncak rinjani memakan waktu 9 – 10 jam. Jalur ini sangat dramatis dan mengesankan trail wisata yang anda lalui merupakan padang savana dan punggung gunung yang berliku-liku dengan jurang disebelah kiri dan kanan jalur. Dibandingkan jalur senaru, jalur pendakian ini tidak terlalu curam, namun karena didominasi oleh padang savana menjadikan perjalanan anda bermandikan peluh oleh teriknya matahari yang menyengat, namun semua itu akan sirna saat anda dibuat terpana oleh indahnya pemandangan padang dan hutan yang luas sepanjang lembah-lembah nan hijau disebelah timur Gunung Rinjani, bahkan mata anda akan dimanjakan oleh indahnya selat Alas dan Pulau Sumbawa di kejauhan. Setelah tiba di puncak Rinjani anda bisa beristirahat sejenak sembari menikmati panorama alam dan berbangga diri telah menginjakkan kaki disalah satu kaki langit di Indonesia serta menimbulkan rasa kekaguman akan ciptaan Tuhan. Jalur Torean Sepanjang jalur ini, dari Desa Torean menuju kali Tiu (batas TNGR) yang merupakan Pos I pendakian dapat dijumpai ladang, padang pengembalaan, perkebunan dan merupakan kawasan Hutan Produksi. Kemiringan 20 -45% jarak desa Torean dengan batas TNGR (Pos I) ± Km 5,00 Km dengan kemiringan ±10-30%. Flora yang dapat dijumpai yakni: Bajur, Klokos Udang, Rotan Hutan, Bangsal, Lengsir, Jambu, Bunut, Blimbing Hutan, Juwet, Paku-pakuan, Ketimunan, Rajumas, Tapan Dawa. Sedangkan Fauna yang dapat dijumpai yakni: beberapa jenis burung (perkici, Daweuh, Kecial, Srigunting). Jarak dari Pos III Torean menuju ke Plawangan Torean± 3,50 Km dengan kemiringan ± 30 -40%, sepanjang perjalanan kita akan berada dalam apitan 2 buah gunung dan kita juga dapat menikmati aliran sungai (Kokok) Putih.

sedikit yang gwe tau tentang survival

 

Survival Di Gunung,

Sebuah Panduan Lapangan Gunung adalah salah satu lingkungan yang tidak lazim dihuni oleh manusia. Namun gunung sering menjadi tempat pilihan pertama bagi sebagian orang untuk kegiatan mereka. Kondisi alam di gunung sangatlah sulit ditebak. Kadang cuaca cerah tapi dengan hitungan menit sudah menjadi hujan disertai angin kencang. Selain itu cuaca di gunung sangat dingin. Tak heran jika banyak terjadi kecelakaan di gunung. Melakukan persiapan dengan baik sebelum melakukan kegiatan di gunung adalah tindakan survival yang utama dan paling mudah dilakukan,

tapi manfaatnya adalah sangat besar bagi nyawa manusia. Mengenal medan Secara umum kondisi medan di gunung adalah berbahaya, terutama bagi orang yang tidak pernah mengenalnya, namun bagi sebagian orang gunung adalah tempat yang sangat dicintai karena alamnya yang sangat indah. Selain itu ada sensasi sendiri bagi orang yang bisa mendaki dan mencapai puncak gunung. Berikut adalah beberapa hal tentang kondisi medan di gunung :

  • Suhu udara dingin, beberapa gunung di Indonesia bahkan bisa mencapai 0 derajat celcius.
  • Kontur tanah tidak rata, banyak jurang dan lembah.
  • Sebagian gunung di Indonesia lerengnya terdapat hutan yang lebat, sehingga banyak sumber makanan dan air, namun di bagian puncak gunung, hampir tidak ada sumber makanan.
  • Untuk gunung yang mempunyai hutan di lerengnya, biasanya terdapat binatang seperti harimau, babi hutan, ular berbisa dan anjing liar.

 

Persiapan Hal yang perlu disiapkan ketika melakukan kegiatan di gunung adalah :

  • Kondisi tubuh yang sehat.
  • Kondisi mental yang stabil.
  • Tujuan melakukan kegiatan di gunung harus jelas, supaya pola kegiatan yang dilakukan bisa direncanakan dengan baik. Mengingat kondisi medan di gunung berbeda dengan kondisi medan yang biasa kita hadapi, maka ada peralatan-peralatan dan bahan yang harus kita siapkan dan bawa yaitu:

 

* Peralatan Dasar

  1. Pakaian yaitu : baju lapangan, kaus dari bahan yang bisa menyerap keringat, jelana (buka jins), pakaian dalam secukupnya, jas hujan, kaus kaki, kaus tangan, penutup kepala (topi rimba dan balaclava), ikat pinggang, sepatu untuk mendaki (trekking).
  2. Peralatan untuk beristirahat : shelter (tenda buatan atau alami), sleeping bag, matras atau alas.
  3. Peralatan untuk masak : kompor, panci, gelas / piring (dari plastik atau bahan lain yang tidak mudah pecah), pematik api, dan bahan bakar (disesuaikan dengan kompor atau pemanas yan tersedia)
  4. Peralatan Pribadi : sabun, sikat gigi, handuk, obat pribadi, jarum, benang dan peralatan lain sesuai kebiasaan.
  5. Ransel atau tas punggung yang sesuai dengan barang bawaan dan pisau rimba dan ponco.

* Peralatan tambahan

  1. Peralatan Navigasi : GPS, peta, kompas, jam tangan
  2. Peralatan Fotografi : kamera SLR atau pocket, handycam.
  3. Peralatan Komunikasi : telepon selular, handy talky.

 

Etika di gunung

Di manapu kita berada sebaiknya kita tetap menjaga kebiasaan lingkungan setenpat. Maka ketika melakukan kegiatan di gunung, kebiasaan atau aturan penduduk asli haus kita hormati dan jangan sekali-kali menentangnya. Selain menghormati kebiasaan setempat, berikut adalah hal-hal yang sebaiknya kita lakukan :

  • Kendalikan diri, dan ketahuilah kemampuan diri sendiri
  • Jangan meninggalkan sampah.
  • Jangan meninggalkan api.
  • Jika menemukan sumber makanan dan air gunakan seperlunya saja.
  • Jagalah keseimbangakn ekosistem yang ada, jangan merusak dan memberi tanda-tanda permanen di gunung. · Gunakanlah jalur yang normal dan aman
  • Selalu mengingat jalur mana yang telah dilewati, jika tersesat maka bisa kembali ke jalan semula.

 

Kecelakaan di gunung

Kegiatan di gunung memang rawan terhadap kecelakaan. Penyebabnya adalah kondisi medan di gunung yang ekstrim. Kecelakaan di gunung biasanya disebabkan oleh :

  • Kedinginan
  • Kelaparan
  • Kehausan
  • Kehilangan arah / tersesat

 

Kedinginan

Hampir sebagian besar korban kecelakaan gunung disebabkan oleh kedinginan. Maka untuk menanmbah angka korban tersebut ada baiknya bertindak cermat ketika kedinginan melanda. Akibat dari kedinginan Akibat dari kedinginan adalah penyakit hipotermia, kondisi tubuh tidak normal karena kedinginan (suhu normal manusia 36-37 derajat celcius). Hipotermia disebabkan karena panas di permukaan tubuh sudah hilang sehingga organ-organ tubuh pun akan mengalami kedinginan. Jika pembuluh darah sampai mengerut karenan kedinginan maka akibatnya sangat fatal, karena bagian tubuh yang sirkulasi darahnya terhenti akan rusak dan penanganannya adalah amputasi. Selain gangguan di organ-organ tubuh, orang yang mengalami hipotermia akan kehilangan koordinasi tubuh dan pola pikir rasional, maka tak heran jika orang yang menderita hipotermia bicaranya akan kacau di luar sadar, bahkan bisa pingsan. Mencegah dan menangani kedinginan

Beberapa point penting ketika mengalami kedinginan adalah :

  • Jaga agar pakaian dan tempat istirahat tetap kering
  • Jaga peralatan dan pakaian yang dikenakan dalam keadaan bersih
  • Makan dan minuman yang panas dan mengandung banyak kalori
  • Kurangi aktifitas yang tidak perlu.
  • Berlindung di tempat yang aman.

Untuk mencegah kedinginan ketika di gunung yang paling mudah adalah gunakan pakaian penahan dingin seperti jaket. Tetaplah gunakan pakaian yang dapat menyerap keringat dengan baik seperti kaus dari bahan katun sebagai lapisan pertama yang menyentuh kulit. Pakailah juga kaus tangan dan kaus kaki yang baik dan cukup tebal untuk menahan dingin. Selain pakaian, untuk mengatasi dinginnya udara dingin, adalah memanfaatkan api. Dengan membuat perapian maka panas tubuh dapat terjaga dengan baik. Untuk membuat api usahakanlah agar tetap terlokalisasi. Caranya gunakan batu sebagai batas perapian dan sebelum meninggalkan tempat pastikan bahwa api sudah benar-benar padam, kalau perlu siramlah dengan air. Jangan sampai perapian yang dibuat menjadi penyebab musnahnya ekosistem. Cara lain adalah dengan mengkonsumsi makanan dan minuman hangat. Jika kedinginan maka tubuh akan bereaksi melakukan pembakaran kalori menjadi panas. Tapi jika kalori tidak tersedia maka akibatnya akan fatal. Maka makanan dan minuman hangat adalah usaha pencegahan kedinginan dari dalam tubuh yang baik. Perlu diingat juga agar kedinginan tidak menyerang adalah jangan berada di lokasi hempasan angin.

 

Kelaparan

Ini adalah ancaman bahaya yang paling gampang diprediksi dan ditanggulangi. Sebagai manusia yang setiap kali makan, maka seharusnya bisa mengukur berapa makanan yang diperlukan dalam jangka waktu tertentu. Rumus yang sering digunakan untuk membawa jumlah makanan yang diperlukan adalah 2n+1 (n adalah jumlah hari selama melakukan kegiatan), jika kegiatan dilakukan selama 2 hari, maka perbekalan yang dibawa adalah 5 x jumlah makanan dalam kondisi normal. Jika sampai terjadi kelaparan maka penyebabnya adalah: salah perhitungan, hilang, atau tersesat sehingga waktu kegiatan menjadi lebih lama. Kelaparan akan menjadi masalah serius, dalam jangka waktu tertentu, tergantung kondisi masing-masing orang, kelaparan dapat menyebabkan kematian. Satu-satunya jalan untuk mengatasi bahaya kelaparan di gunung adalah mencari bahan makanan dan makan.

 

Kehausan

Air adalah bagian yang sangat penting dalam tubuh manusia. Kekurangan cairan dalam tubuh akibatnya sangat fatal (kematian) dibandingakan kekurangan makanan. Dampak dari kehausan atau dehidrasi adalah : · Pingsan

  • Kehilangan orientasi dan pola pikir rasional
  • Gerakan-gerakan tubuh tidak terkoordinasi (gemetar)
  • Mati Jika dalam keadaan dihidrasi, maka langkah darurat yang harus dilakukan adalah :
  • Mencari tempat berteduh (jika cuaca panas)
  • Istirahat dan kurangi aktifitas yang tidak perlu.
  • Cari sumber air yang bisa dimanfaatkan dengan aman

 

Kehilangan arah / tersesat

Kegiatan di alam terbuka mempunyai resiko utama tersesat. Ketika orang tersesat maka kondisi mental mereka akan menurun, panik, lebih-lebih jika sendirian. Berikut tip untuk menangani keadaan tersebut :

  • Pastikan bahwa dalam perjalanan, arah yang dituju benar, paling tidak ada orang lain yang tahu arahnya.
  • Selalu gunakan alat-alat navigasi seperti peta, kompas, GPS, dan alat komunikasi.
  • Jika sudah tersesat, kembali lagi ke jalan sebelumnya, jika tidak ketemu maka langkah yang terbaik adalah berhenti dan beristirahat dulu, berpikir, kenali medan dengan bantuan alat navigasi dan merencanakan tindakan selanjutnya – Rumus STOP (Site, Thingking, Observation, Planing)
  • Gunakanlah alat komunikasi untuk mengubungi orang lain.

 

Jika tersesat dan perjalanan tidak mungkin dilakukan maka langkah yang ditempuh adalah :

  • Buat tempat perlindungan untuk istirahat.
  • Jaga agar kondisi tubuh tetap dapat beraktifitas dengan baik.
  • Periksa peralatan dan bahan makanan, jika tidak cukup, maka sebaiknya mencari.
  • Komunikasi dengan orang lain, jika tidak mungkin maka buat tanda untuk menarik perhatian orang.

 

Rangkuman dari :

  1. Survival, Evacuation and Recovery SEAL-
  2. Survival FM 21-76
  3. Military Mountaineering
  4. dan sumber lain

 

survival

sedikit yang gwa tau tentang survival

Seseorang terpaksa harus hidup dalam kondisi di luar rencana. Hal ini dapat terjadi dalam perjalanan darat (perjalanan pendakian gunung, penelusuran hutan, pembuatan peta gunung, pembuatan peta sungai, melakukan misi penyelamatan, dll.), perjalanan melalui laut(perjalanan melintasi lautan/perjalanan antar pulau maupun antar benua.), perjalanan melalui udara. Dalam kondisi terjepit tersebut, seseorang itu dituntut untuk mampu bertahan merawat dan menjaga kelangsungan hidupnya melawan diri sendiri secara psikologis ataupun  fisiologis serta lingkungan sekitarnya.

 

Tantangan  yang dapat dihadapi  survivor  antara lain:

 

-Keadaan diri sendiri (psikologis/mental, fisik, dan kesehatan).

-Keadaan alam (keadaan cuaca dan kondisi medan) .

-Keadaan mahluk hidup di sekitar kita (binatang dan tumbuhan).

-kesulitan-kesulitan muncul biasanya akibat kurangnya pengalaman atau kurangnnya persiapan kita sendiri.

 

 

 

Ancaman dalam survival

 

Banyak sekali ancaman dalam survival yang dapat kita hadapi, antara lain:

Ancaman psicologis: Kemerosotan mental, stres, depresi, tegang, panik.

Anc                        aman fisiologis: Cuaca panas maupun dingin, Serangan penyakit, Bahaya binatang, keracunan, Keletihan amat sangat, Kelaparan, Luka , dll.

 

Kebutuhan

 

Seorang survivor memiliki banyak kebutuhan yang harus tetap di penuhi. Kebutuhan tersebut mencakup:

 

Sikap mental: Kebutuhan utama yang harus dimiliki survivor agar tetap tenang dan berfikir jernih, hal ini akan berpengaruh terhadap kemampuannya dalam mengaplikasikan pengalaman-pengalamannya.

Sikap ini mencakup antara lain: Semangat untuk tetap hidup, kepercayaan diri, akal sehat, disiplin, mampu merencanakan dengan matang langkah-langkah lanjutan yang harus ditempuh dan lain-lain.

 

Pengetahuan: segala pengetahuan yang harus dimiliki survivor untuk menunjang kebutuhan utamanya untuk tetap hidup secara sehat.

Kemampuan ini mencakup antara lain: Kemampuan  membuat bivack, kemampuan  memperoleh air yang dapat dikonsumsi, kemampuan  mendapatkan makanan dengan cara mengidentifikasi tanaman maupun membuat trap/jebakan, kemampuan  membuat api, kemampuan  melakukan orientasi medan, kemampuan  membuat senjata, kemampuan  membuat signal guna mencari pertolongan dan lain-lain.

 

Peralatan: segala peralatan yang diperlukan untuk menunjang kelangsungan hidup dan kebutuhan survivor.

 

Peralatan ini mencakup:  survival kit.
 

 

Survival Kit

 

Survival kit adalah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan, dimana hal ini mencakup berbagai jenis fungsi guna memenuhi berbagai kebutuhan ketika survival. Sebaiknya survival kit disiapkan dengan sangat lengkap, karena kita tidak akan pernah tahu seperti apa lingkungan yang mungkin kita temui.

 

 

Berikut kurang lebihnya standart survival kit yang sebaiknya tersedia pada perlengkapan perjalanan anda, antara lain:

 

1. Knifes/Pisau : berguna untuk memotong kayu, membuat peralatan, mencari makanan, sebagai proteksi dll.(gunakan pisau lebih dari satu buah, sebagai antisipasi jika ada masalah dengan pisau anda.)

2.Tali (tali prusik, tali kawat ukuran sedang, tali kawat ukuran kecil tali nilon): untuk mengikat, membuat shelter, membuat trap dll.

3. Senter : sebagai penerangan(gunakan minimal dua buah senter lengkap dengan batre dan pierces cadangan).

4. Perak murni: untuk mengidentifikasi makanan beracun/tidak.

5. Cermin kecil: guna membuat signal bantuan.

6. Peluit: untuk meminta bantuan.

7. Emergensi lamp: guna membuat signal bantuan.

8. Pensil: untuk menulis pada signal lamp maupun meninggalkan jejak dalam bentuk tulisan.

9. Compas/navigasi: sebagai petunjuk arah (lebih baik menggunakan tiga buah kompas sebagai perbandingan)

10. Obat-obatan pribadi dan obat dengan kandungan parasetamol tinggi untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam.

11. Repair kit (Jarum + benang + peniti dll.)

12. Super glue (lem alteko): untuk memperbaiki benda-benda yang rusak.

13. Lilin: untuk memulai api/ membuat penerangan.

14. Flint dan metal/baja: untuk membuat api

15. Metal match: untuk membuat api.

16. Kondom: untuk membuat api.

17. Cermin cembung: untuk membuat api.

18. Kantong plastik: untuk menyimpan makanan/ menampung air.

19. Fishing kit/Perlengkapan memancing.

20. Korek api (korek gas/korek kayu): untuk membuat api.

21. Bandana/kain: untuk menyaring air.

22. Lilitan kawat baja dan pelumas: untuk memotong/menggergaji batang kayu. dalam penggunaannya, lilitan kawat harus diolesi pelumas agar tidak mudah patah.

23. Isolasi/lakban: untuk memperbaiki/merekat sesuatu.

24. Kapas: untuk menutup luka.

25. Hansaplast: untuk menutup luka.

26. Cable ties/pengikat kabel: untuk mengikat sesuatu.

27. Box survival kit:  box ini sebaiknya terbuat dari bahan logam/aluminium karena dapat digunakan untuk memasak makanan ataupun merebus air.

28. Plastic shelter dengan warna perak/emas: plastik yang dapat digunakan untuk membuat atap shelter dan memantulkan cahaya sebagai signal permintaan bantuan.

29. batu asah: untuk mempertajam mata pisau anda.

 

 

 

 

 

 

NAVIGASI

Pengetahuan Dasar Navigasi Darat

Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita.

Pada prinsipnya navigasi adalah cara menentukan arah dan posisi, yaitu arah yang akan dituju dan posisi keberadaan navigator berada dimedan sebenarnya yang di proyeksikan pada peta.

Beberapa media dasar navigasi darat adalah :

Peta

Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.

Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :

  1. Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta
  2. Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta
  3. Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya
  4. Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.
  5. Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).
  6. Legenda peta ; adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut, dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta.

Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960.

Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5 m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.

Koordinat

Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu

  1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate) ; Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30″), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60″).
  2. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM) ; Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).

Analisa Peta

Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.

  1. Unsur dasar peta ; Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.
  2. Mengenal tanda medan ; Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda medan :
  • Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan
  • Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah
  • Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah
  • Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.
  • Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi:
  • 6. Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya.
  • 7. Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak
  • 8. Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat.
  • 9. Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian
  • 10. Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian
  • 11. Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.
  • 12. Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk
  • 13. Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan

Kompas

Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :

  1. Badan, tempat komponen lainnya berada
  2. Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal.
  3. Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin.

Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.

Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat

Catatan: saat ini sudah banyak digunakan GPS [global positioning system] dengan tehnologi satelite untuk mengantikan beberapa fungsi kompas.
Orientasi Peta

Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta:

  1. Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.
  2. Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar
  3. Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya
  4. Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan
  5. Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.

Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.

Resection

Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dalam peta dan dapat dibidik pada medan sebenarnya (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebun teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas).

Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.
Langkah-langkah melakukan resection:

  1. Lakukan orientasi peta
  2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah
  3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik-B2).
  4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.
  5. Pindahkan sudut back azimuth bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.
  6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.

Intersection

Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta. Syaratnya, sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.

Langkah-langkah melakukan intersection adalah:

  1. Lakukan orientasi peta
  2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.
  3. Bidik obyek yang kita amati
  4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta
  5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3
  6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.

Azimuth – Back Azimuth

Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:

  • Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth adalah azimuth dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º
  • Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya adalah 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, diperoleh azimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º

Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man-biasa digunakan untuk “Kompas Bintang”). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.
  2. Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.
  3. Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.
  4. Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).
  5. Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.

Merencanakan Jalur Lintasan

Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke suatu gunung, tapi dengan menggunakan jalur sendiri.

Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan.

Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.

Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.

Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.

Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  1. Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.
  2. Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya
  3. Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.
  4. Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.
  5. Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.

Penampang Lintasan

Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.

Beberapa manfaat penampang lintasan :

  1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan
  2. Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan
  3. Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu
  4. Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.

Langkah-langkah membuat penampang lintasan:

  1. Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing, penggaris dan penghapus
  2. Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.
  3. Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu peda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.
  4. Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.
  5. Tembahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.

Ingatlah hai engkau penjelahan alam :

  1. Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]
  2. Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]
  3. Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki]

 

tekhnik menyelam

tekhnik dasar menyelam

tekhnik dasar menyelam

Predive Procedures
Prosedur sebelum penyelaman termasuk persiapan peralatan, persiapan penyelam, dan melakukan inspeksi sebelum masuk ke dalam air.

Persiapan Peralatan
Sebelum melakukan penyelaman, penyelam harus melakukan inspeksi terhadap peralatan yang digunakan. Peralatannya harus standar, tidak boleh sembarangan, dan nyaman dipakai.

scuba

scuba

Tabung Selam

Lihat bagian luar tabung apakah terdapat karat, retak, penyok, dll yang menunjukkan dinding tabung tidak normal.
Lihat O-ring
Pastikan cadangan mekanis (reserve mechanism) tertutup (tuasnya berada diatas) menandakan tabung siap digunakan.
Ukur tekanan tabung menggunakan alat pressure gauge melalui prosedur sebagai berikut:
Pasang alat pressure gauge pada seal O ring berhadapan dengan katup tabung.
Tutup katup alat pressure gauge dan kemudian buka cadangan mekanis (tuasnya gerakkan ke bawah). Secara perlahan buka keran tabung. Lihat pergerakan di alat pressure gauge.
Baca tekanan di alat pressure gauge. Tabung tidak boleh digunakan bila tekanan tidak mencukupi untuk penyelaman.
Tutup keran tabung dan buka katup pressure gauge dan biarkan udara mengalir bebas.
Jika alat pressure gauge sudah menunjukkan angka nol, lepaskan alat dari tabung.
Jika tekanan tabung 50 psi atau lebih dari tekanan yang diharapkan, buka keran tabung untuk membuang kelebihan tekanan dan kemudian ukur kembali dengan alat pressure gauge.

Harnes straps dan Backpack

Harnes straps dan Backpack

Harnes straps dan Backpack

Cek kekuatan harness. Lihat apakah sudah memulai melonggar atau tidak.
Atur strap sesuai dengan penyelam dan coba tes apakah mekanisme quick-release bagus/tidak.
Cek backpack apakah ada retak dan kondisi lain yang membuat penyelaman tidak aman.

Breathing Hose (selang/pipa)

Cek selang dari kebocoran dan retak-retak.
Cek hubungan selang dengan regulator dan mouthpiece, dengan mencoba menarik selang.
Lihat klem selang apakah ada karat dan kerusakan lain, bila perlu ganti klem dengan yang baru.

Regulator dan Cara Merakit ke Tabung

Pastikan tekanan first stage telah di set 135 psig atau sesuai dengan pabrik yang mengeluarkannya.
Buka keran tabung sedikit. Hal ini dilakukan karena kemungkinan debu/kotoran pada lubang katup akan dapat terlepas/terdorong keluar.
Pasang regulator pada tabung, pastikan O ring sudah pada tempatnya (yoke).
Sebelum membuka hisap melalui mouthpiece untuk mengontrol baik tidaknya regulator.
Buka keran sampai penuh, kemudian kembalikan keran setengah putaran. Hal ini menghindarai kerusakan pada keran.
Coba bernapas 2-3 kali menggunakan mouthpiece.
Cek adakah kebocoran pada regulator dengan mendengar desis udara. Jika tidak terlihat masukan ke dalam tanki air.
Jika memasag SPG hubungkan dengan muara pada first stage yang bertuliskan HP. Arahkan SPG ke tempat yang aman saat membuka keran.

Buoyancy Compensator

Buoyancy Compensator

Bouyancy Compensator

Tiup BC untuk mengetahui kebocoran dah kemudian tekan dengan tangan supaya udara keluar.
Jangan pernah menghisap udara karena udara tiupan banyak mengandung karbondioksida.
Pasang selang BC pada muara tekanan rendah.

Masker

Cek seal masker dan strapnya.
Cek apakah ada keretakan pada seal/skirt atau kaca masker.

Fin

Cek adanya retak/patah/robek pada strap (bagian yang melekatkan pada kaki)
Cek blade fin adanya retak dsb.

Pisau selam

Cek ketajaman pisau selam
Pastikan pisau melekat dengan baik pada sarungnya.
Pastikan pisau mudah dikeluarkan dan tidak mudah lepas dari sarungnya.
Tempatkan di bagian yang mudah dijangkau dan aman. Jangan berada di sekitar weight belt, karena dapat mudah terlepas.

Snorkel

Snorkel

Snorkel

Lihat snorkel apakah ada sumbatan.
Pastikan katup berfungsi dengan baik.

Sabuk Pemberat

Cek kondisi sabuk pemberat.
Pastikan jumlah pemberat yang akan dipakai.
Cek apakah buckle quick-release berfungsi.

Jam Selam

Pastikan jam dalam kondisi baik dan waktu yang tepat. Samakan waktu dengan tim selam.
Cek tali pengikat jam, terlalu kencang menyulitkan pergerakan, terlalu longgar akan mudah lepas.

Tolok Kedalaman (depth gauge) dan Kompas

Lihat jarum depth gauge apakah menunjuk angka nol dipermukaan laut. Jika perlu cek dengan yang lain sebagai perbandingan.
Jika perlu kompas dicek dengan cara yang sama.

Peralatan lain
Cek semua peralatan lain yang akan dipakai termasuk tabung dan regulator cadangan. Jangan lupa mengecek pakaian terutama penyelaman dengan dry suit.

Persiapan Penyelam dan Briefing
Setelah peralatan siap dan dalam kondisi baik, maka para penyelam diberikan briefing yaitu mengenai:
Tujuan Penyelaman
Waktu dan dalamnya penyelaman
Tugas masing-masing penyelam
Kesulitan, bahaya yang akan dihadapi, dan prosedur emergensi.

Mengenakan Peralatan
Walaupun penyelam diharuskan dapat memasang peralatan sendiri, namun dengan pertolongan asisten akan lebih baik. Berikut ini adalah urutan mengenakan perlatan selam yang harus diperhatikan:
Pakaian selam. Pastikan proteksi pakaian selam sesuai kondisi medan penyelaman.
Booties dan hood
Pisau Selam
BC
SCUBA
Jika ditolong asisten, mintalah untuk memposisikan tabung dan penyelam mengatur dan mengikat harness. Tabung scuba diposisikan setinggi mungkin, tetapi tidak menggangu pandangan penyelam. Pastikan BC sudah terhubungkan.
Peralatan lain (Jam, kompas, depth gauge)
Sabuk Pemberat
Sarung Tangan
Fin
Masker dan snorkel

Menggunakan Peralatan di Permukaan dan di dalam Air
Jika tidak memungkinkan pemakaian peralatan di darat, maka peralatan selam dapat dipakai dipermukaan maupun di dalam air. Hal ini sering dipraktekkan di kelas kolam.
Cara memasang di permukaan sebagai berikut:

Pastikan BC terisi udara dan membuat tabung terapung.
Gunakan fin, masker, dan snorkel lalu masuk ke air.
Kempiskan BC sedikit sehingga tabung mudah di kontrol.
Pakai BC dan tabung. Bisa dengan satu-satu tangan, atau langsung dua tangan (dengan menjungkirbalik tabung ke belakang melewati kepala, atau dengan berenang ke bawah BC sambil memasukkan dua tangan). Pastikan leher tidak terlilit hose dan BC terpasang dengan benar.
Kesuksesan bergantung pengalaman dan kondisi medan.

Cara memasang di bawah air sebagai berikut:

Semua peralatan berada di dalam air kecuali pakaian selam dan jam tangan.
Masuk ke dalam air, ambil napas dua kali, dan lakukan dugdive ke tempat peralatan.
Pertama ambil mouthpiece, keluarkan air yang menyumbat, bernapas dengan santai.
Pasang BC dan tabung, caranya sama dengan di permukaan, pastikan leher tidak terlilit hose dan posisi BC benar.
Kenakan fin dan masker dilanjutkan dengan mask clearing.
Gunakan sabuk pemberat.
Naik ke permukaan atau menyelam dengan buddy.
Kesuksesan bergantung pengalaman dan kondisi medan.

Inspeksi Predive
Sebelum masuk ke dalam air harus dilakukan inspeksi predive yaitu:

Pastikan kesiapan fisik dan mental sebelum masuk ke dalam air.
Pastikan penyelam sudah memiliki peralatan minimum (SCUBA, masker, BC, sabuk pemberat, pisau selam, fins, jam, dan depth gauge). JIka menggunakan garis buddy hanya perlu satu jam selam dan satu depth gauge.
Pastikan tabung telah diukur tekanannya dan dapat dipakai sesuai rencana penyelaman.
Pastikan semua buckle quick-release dalam jangkauan.
Pastikan posisi sambuk pemberat sehingga mudah dilepaskan dan tidak terjepit dengan peralatan lain.
Pastikan BC tidak tertekan sehingga mudah mengembang.
Cek posisi pisau selam.
Pastikan kran tabung terbuka setengahnya (dengan membuka penuh lalu ditutup ¨ù sampai ¨ö).
Jika menggunakan double hose, pastikan pipa pengeluaran berada di sebelah kiri dan menghadap ke atas.
Coba bernapas dengan mouthpiece beberapa kali dan pastikan bernapas dengan nyaman.
Jika menggunakan single hose, tekan tombol kuras dan lepaskan, dengar adanya udara keluar. Kemudian coba bernapas dengan mouthpice.
Pastikan reserve mechanism dalam posisi tertutup (tuas berada diatas).
Review briefing.

Water Entry dan Descent
Sekarang penyelam sudah siap masuk ke dalam air dan turun ke kedalaman. Inspeksi dilakukan oleh partner selam.
Water Entry
Ada beberapa cara masuk ke dalam air, hal itu tergantung medan penyelaman dan landasan yang digunakan. Jika memungkinkan entry ke dalam air menggunakan tangga terutama jika keadaan air belum dikenal.
Berikut aturan yang diaplikasi dalam semua metode entry:

Perhatikan timing sebelum melakukan entry.
Dekatkan dagu ke dada. Pegang tabung dengan satu tangan untuk menghindari benturan peralatan selam di belakang kepala.
Tekan masker dengan jari (telunjuk dan tengah) dan mouthpiece dengan telapak tangan.

Berikut ini metode water entry:
Step-In Method/ Standing Front Entry
Metode ini sering digunakan dan sering digunakan bila landasan statis seperti kapal yang besar atau dermaga. Penyelam harus melangkah yang besar (Giant Step), dan kaki harus dijaga pada langkahnya tanpa adanya gerakan lompatan dan jangan ditarik lagi. Biarkan kaki tetap terentang hingga menyentuh permukaan air. Usahakan tubuh agak cenderung ke depan sehingga kepala tidak membentur tabung. Pada waktu kaki menyentuh air, kedua kaki dikatupkan kembali untuk menjaga posisi penyelam agar tetap di permukaan.
Real Roll Method
Bila menggunakan kapal yang kecil atau perahu karet, gunakan metode ini, karena apabila penyelam yang memakai peralatan lengkap berdiri di samping kapal akan mempengaruhi keseimbangan kapal yang akhirnya membuat penyelam susah menjaga keseimbangan.
Untuk melakukan ini penyelam duduk di pinggir dan mengahadap ke dalam perahu. Dengan dagu ditekuk dan memegang masker dan mouthpiece, penyelam berguling ke belakang. Gunakan tenaga sehingga jungkir balik penuh.
Side Roll
Posisi penyelam duduk ditepi perahu sejajar dengan lambung perahu. Cara ini jarang digunakan. Dengan memegang masker dan mouthpiece penyelam terjun ke arah air. Cara ini lazim digunakan oleh under water demolation team (UDT) atau regu penghancur bawah air, yang harus masuk ke air sementara perahu karet tetap melaju cepat.

Front Roll/ Sitting front entry
Cara ini akan sangat berguna jika akan masuk air dari dermaga yang rendah ataupun plat form. Penyelam duduk di pinggir perahu , dengan fin berjuntai dan menghadap ke air. Kemudian dengan badan condong ke depan, tempatkan tangan di kedua sisi, berputarlah dan masuk ke air.
Rear Step-In Methode
Modikasi dari Step-In . Bedanya penyelam menghadap kapal, dan kemudian melangkah ke belakang menjauhi kapal.
Water Entry Daerah Pantai
Tergantung dari kondisi gelombang dan landasan pantai. Jika ombak tenang dan landasan pantai landai, dapat berjalan di air dengan fin dilepas sampai air cukup dalam untuk berenang.
Jika ombak besar dan landasan pantai curam, gunakan fin dan jalan mundur membelakangi gelombang. Setelah cukup dalam untuk berenang balikkan tubuh ke belakang dan berenang memecah gelombang.

Surface Swimming/Snorkeling
Kapal seharusnya dekat dengan tempat penyelaman. Ketika berenang maka rekan selam sebaiknya melakukan kontak visual dengan rekan lainnya sehingga berenang lancar dan tidak membentur satu sama lain. Faktor yang paling penting dalam berenang dengan SCUBA adalah gerakan yang relax untuk menghemat energi. Penyelam harus tetap memakai masker dan bernapas melalui snorkel. Jika menggunakan regulator, pegang mouthpiece sehingga udara tidak mengalir bebas keluar sistem SCUBA.
Penyelam sebaiknya hanya menggunakan kaki untuk mengayuh dan sedikit menggunakan paha. Jangan sampai mengangkat fin dari dalam air. Penyelam dapat mengubah posisi dengan punggung mengahadap ke dalam air dan tetap bergerak dengan kayuhan fin. Bisa juga dengan memompa BC, tetapi sebelum turun ke dalam BC harus dikosongkan dulu.

Predescent Surface Check
Sebelum turun ke kedalaman.Penyelam harus melakukan final check terhadap peralatan. Para penyelam harus:

Mengecek pernapasan dengan mouthpiece. Udara harus keluar sesuai dengan tekanan negatif yang diberikan penyelam dan tidak menyedot dengan kuat.
Cek peralatan partner apakah terdapat kebocoran yang biasanya terletak pada sambungan (regulator, keran tabung, hose, dll).
Cek strap partner apakah terlipat/tidak dan terlihat longgar.
Cek masker apakah masuk air. Jika kemasukan air hilangkan dengan mask clearing.
Cek Bouyancy. Bouyancy harus netral dengan mengatur udara di dalam BC. Kondisi dianggap netral jika batas permukaan air berada diatas masker tanpa menggerakkan fin.
Jika menggunakan dry duit, lihat apakah ada kebocoran.
Orientasi posisi menggunakan kompas atau menggunakan lainnya.
Berikan tanda OK jika sudah selesai dan siap turun ke dalam air.

Bouyancy Control
Untuk mengatur keterapungan, penyelam harus mengontrol boyancy. Selama menyelam bouyancy harus netral, dalam arti penyelam melayang di dalam air. Jika naik usahakan jangan menggunakan BC, kecuali keadaan darurat atau susah naik keatas.
Bouyancy biasanya dikontrol di tombol mekanik di bahu sebelah kiri, aturlah masuk keluarnya udara dalam BC dengan tombol ini. Jika ingin turun, maka bergerak ke depan dalam posisi horizontal lalu diam, sambil mengatur tombol BC. Jika permukaan air sudah berada di mata dengan kepala ke depan anggap itu bouyancy netral.
Cara mengatur BC:
Di permukaan
Penyelam berada di tempat dalam dengan posisi berdiri dengan mulut m eniup penuh BC nya melalui oral inflator. Pengendalian romphi apung dengan cara mengatur udara di BC sampai batas permukaan air berada di mata.
Di kedalaman
Penyelam di kedalaman mengatur netral buoyancy dengan cara mengisi udara ke BC baik lewat oral inflator maupun mekanikal inflator.

Descent
Untuk turun ke bawah penyelam dapat berenang ke dalam, menggunakan tali turun untuk menarik tubuh ke bawah, atau menelusuri lengkung landas pantai. Kecepatan turun tergantung proses equalising yang dilakukan tetapi tidak boleh lebih dari 75 feet/menit (25 m/menit ? 0,42 m/detik). Jika salah satu teman mengalami kesulitan equalising, maka lebih baik jangan turun ke bawah, naik sedikit sehingga lebih enak dan lakukan equalizing kembali. Jika tetap mengalami equalizing segera naik ke atas dan batalkan penyelaman.
Apabila jarak penglihatan dalam air sangat kurang, rentangkan tangan untuk menghindari rintangan.
Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan maka cek dan lihat lingkungan sekitar.
Equalizing
Review dari bab sebelumnya, lakukan equalising mulai dari kedalaman 4 feet (1,3 meter), jangan sampai dimulai pada saat sudah sakit. Jangan terlalu keras melakukannya. Metode equalizing ada 2 cara yaitu Manuver Valsava dan Frenzel.

Manuver Valsalva yaitu meniup udara melawan dengan bibir dan hidung tertutup dan lidah ke arah belakang untuk meningkatkan tekanan rongga faring yang diteruskan ke dalam telinga tengah melalu tuba eustachius. Manuver ini juga dapat membuka tuba eustachius yang tertutup. Biasa disebut mengedan.
Manuver Frenzel yaitu dengan menelan dengan lidah ke belakang dimana bibir ditutup dan lubang hidung di tekan (memencet hidung).

Underwater Procedures
Bottom time merupakan hal utama dalam SCUBA diving, hal ini karena udara sangat terbatas. Penyelam harus mengehemat energi dan dapat secara tiba-tiba menghentikan penyelaman dan naik ke atas. Penyelam juga harus waspada dan melihat kondisi penyelam lainnya.

Teknik Bernapas
Pada penyelam yang baru biasanya gugup dan bernapas dengan cepat dan dalam. Ajarkan supaya bernapas dengan santai, pelan, dan tidak tergesa-gesa. Bila masih belum dapat diatasi segera naik ke permukaan.
Jangan pernah melakukan ¡°skip breathing¡± dimana bertujuan menghemat udara. Hal ini mengakibatkan hiperkapnea.
Penyelam dapat mengalami kesulitan bernapas dari mouthpiece atau udara terasa kurang saat disedot sehingga harus dengan kuat, jika tabung masih banyak terisi udara, hal itu disebabkan masalah regulator, segera naik ke permukaan.
Hal diatas juga dapat terjadi jika tabung sudah mulai habis, untuk itu buka cadangan mekanis dan segera naik ke permukaan. Jika menggunakan SPG, hentikan penyelaman jika tekanan tabung turun menjadi 500 psi (satu tabung) atau 250 psi (dua tabung).

Mask Clearing
Air mungkin sedikit masuk ke dalam masker. Hal ini dapat membantu membersihkan fog yang menempel di kaca. Namun dalam jumlah besar tentunya akan tidak nyaman sehingga harus dikeluarkan dengan mask clearing.
Jika masker mempunyai katup kuras, miringkan masker kearah katup kuras (biasanya dengan menunduk bila katup kuras di didepan), tekan masker sedikit kemuka dan keluarkan udara dengan cepat melalui hidung. Hal ini membuat air keluar melalui katup.
Jika masker tidak punya katup kuras. Gunakan metode sesuai gambar. Yang sering digunakan adalah head up method. Yaitu angkat kepala sehingga masker agak keatas sehingga air terkumpul di daerah bawah. Tekan bagian atas masker sehingga seal bagian bawah agak terbuka dan langsung keluarkan udara lewat hidung. Lepaskan tekanan dengan cepat sehingga seal bagian bawah menempel kembali.
Video
Jangan panik dalam melakukan ini. Cobalah berlatih dengan menggunakan snorkel saja sehingga kepercayaan diri meningkat jika menggunakan SCUBA.
Pemilihan masker juga harus mempertimbangkan faktor kenyamanan dalam melakukan mask clearing. Jika masker mudah masuk air segera batalkan penyelaman, dan ganti dengan masker yang lain karena udara akan habis untuk mask clearing. Sering mask clearing juga menurunkan kewaspadaan dalam penyelaman. Gunakan antifog sebelum masuk ke dalam air, dan jangan mengandalkan mask clearing untuk menghilangkan fog.

Hose and Mouthpiece Clearing
Mouthopiece dan hose dapat masuk air ketika dikeluarkan dari mulut dan masuk ke dalam air. Jika menggunakan single hose, itu bukan masalah besar karena untuk mengeluarkan air bisa menekan tombol kuras (biasanya di depan mouthpiece).
Untuk double hose, penyelam harus meyelam posisi horizontal dan memegang mouthpiece. Kemudian hembuskan udara ke dalam mouthpiece sehingga air yang masuk keluar lewat pipa pengeluaran (exhaust). Jangan bernapas dalam, sewajarnya saja. Jika masih ada air yang masuk lakukan hal yang sama dan kemudian bernapas wajar. Apabila tidak dapat bernapas, jungkir balik ke belakang sehingga udara mengalir bebas dari regulator.

Regulator Recovery
Jangan panik ketika mouthpiece lepas dari mulut. Jangan panik mencari hose nya. Jika lepas ada dua cara untuk mencari mouthpiece yang sudah berada di belakang.
Miringkan badan ke arah kanan dan tangan kanan direntangkan ke belakang dan tarik ke depan seperti gerakan mengayuh. Hose akan melintangi tangan dan akan terpegang.
Cara kedua yaitu dengan tangan kiri miringkan tabung scuba ke arah kanan dari belakang. Tangan kanan bergerak keatas dan mencari hubungan hose dengan first stage. Biasnya untuk mouthpiece adalah pipa paling atas sebelah kanan. Setelah menemukan hubungan hose maka carilah mouthpiece.

Teknik Berenang
Pada penyelaman, semua gaya dorong berasal dari kaki. Tangan hanya digunakan untuk manuver. Tendangan kaki lebar, santai, dengan gaya dorongan terutama dari paha. Lutut dan pergelangan kaki harus relax. Ritme tendangan kaki harus dipertahankan jangan sampai membuat lelah atau kram.
Jika sudah mahir dapat menggunakan dolphin kick. Dolphin kick dilakukan dengan menggerakkan langsung kedua kaki secara berirama seperti gaya kupu-kupu.

Komunikasi
Untuk penyelam rekreasi di dalam air dapat menggunakan isyarat tangan. Sebenarnya komunikasi dalam SCUBA terdiri dari through-water communication systems (AM dan SSB), hand signals (isyarat tangan), slate boards (sabak), dan line-pull signals.
Jika penyelam masih di permukaan dapat menggunakan suara. Untuk itu hapalkan isyarat tangan yang sering dipakai dalam selam.

Buddy Diver
Menyelam adalah kegiatan yang berisiko tinggi, terlebih-lebih bila penyelaman itu dilakukan seorang diri. Bila terjadi suatu keadaan darurat yang membahayakan keselamatan jiwa dan raga, tidak akan ada orang yang mengetahui dan membantu kesulitan tersebut. Oleh karena itu dunia penyelaman menganut dan mempraktekan prinsip penyelaman yang mengatakan never dive alone. Jadi menyelamlah selalu dalam suatu team dengan sistim mitra (buddy sistim).
Berikut ini peraturan dasar buddy:

Selalu mempertahankan kontak dengan partner selam. Jika jarak penglihatan baik, pastikan partner selam dalam penglihatan. Jika jarak penglihatan buruk seperti air yang sangat keruh, gunakan buddy line.
Tahu arti isyarat tangan dan line pull signal.
Jika isyarat telah diberikan, maka harus di respon secepatnya. Jika tidak direspon maka anggap suatu keadaan emergensi.
Monitor pergerakan dan kondisi partner selam. Ketahui gejala penyakit penyelaman. Jika partner selam terlihat tidak seperti biasanya, pastikan penyebabnya, dan ambil tindakan untuk menghilangkannya.
Jangan meninggalkan partner selam walaupun partner sedang terperangkap dan tidak dapat lepas tanpa pertolongan. Jika tidak bisa ditolong, panggil penyelam lain dengan menandai lokasi selam dimana partner kita terperangkap.
Jika salah satu partner selam membatalkan penyelaman dengan berbagai alasan, maka yang lain juga harus naik ke atas.
Tahu bagaimana melakukan buddy breathing.

Buddy Breathing
Jika penyelam kehabisan udara, atau terjadi kerusakan SCUBA, maka mouthpiece dapat digunakan bersama partner selam. Jika penyelam mempunyai octopus tentunya sangat mudah. Bila hanya punya satu mouthpiece, maka lakukan buddy breathing. Buddy breathing dilakukan dengan berhadapan, dan bergantian bernapas sambil naik ke permukaan. Prosedurnya sbb:

Penyelam yang kekurangan udara harus tenang dan memberikan isyarat tangan ke partnernya dengan menunjuk ke arah mouthpiece.
Kedua penyelam saling memegang lengan masing-masing sehingga jarak tidak terlalu jauh. Berikan oktopus. Jika tidak ada lanjut ke prosedur selanjutmya.
Penyelam yang menolong bernapas dulu lalu memberikan mouthpiece ke penyelam yang ditolong. Penyelam yang ditolong jangan memegang mouthpiece. Mouthpiece diarahkan oleh penyelam penolong ke arah mulut yang ditolong. Kedua penyelam harus menjaga kontak tangan dengan mouthpiece.
Mouthpiece mungkin kemasukan air. Oleh karena itu tekan tombol kuras sebelum masuk ke mulut atau mengeluarkan napas ke dalam mouthpiece sebelum mengambil napas.
Penyelam yang ditolong mengambil dua napas dan mengembalikan ke penolong. Tekan tombol kuras dan penyelam penolong bernapas dua kali.
Lakukan hal ini dengan ritmis dan jangan tergesa-gesa. Jangan naik ke atas jika tidak melakukan siklus yang benar.
Jika naik ke permukaan jangan lupa mengeluarkan napas untuk menghindari barotrauma.

Adaptasi dengan Kondisi Air
Dengan melihat kondisi bawah air yang berbeda-beda, maka penyelam harus melakukan adaptasi.

Jika tempat penyelaman berlumpur. Penyelam jangan menyentuh dasar, cukup 2-3 feet diatas lumpur. Hindari mengayuh terlalu kuat sehingga lumpur dapat naik ke atas.
Hindari menyentuh karang dan dasar berbatu karena dapat melukai dam menggores kulit.
Hindari perubahan kedalaman secara tiba-tiba. Pertahankan kedalaman penyelaman, jangan naik turun.
Jangan membelok terlalu jauh dari tempat penyelaman.
Waspada terhadap efek cahaya di dalam air. Objek terlihat membesar dan dekat.
Waspada terhadap arus yang kuat, terutama arus celah. Jika terbawa arus, relax, jangan melawan. Jika arus sudah mulai lemah berenaglah menghindarinya. Jangan mencoba melawan arus.

Ascent Procedures
Setelah waktu penyelaman dicapai, maka salah satu penyelam harus memberi isyarat untuk naik ke atas. Penyelam tidak boleh naik dengan cepat melebihi 30 feet/menit USN (0,12 m/detik). Bernapas secara normal, jangan menahan napas selama naik karena menyebabkan emboli udara.
Ketika naik ke atas, lakukan dengan memutar badan 360 derajat sehingga dapat melihat sekitar dan satu tangan dinaikkan ke atas untuk mengetahui apakah ada yang menghalangi. Naik harus bersama-sama dengan buddy.
Untuk menghindari cedera pada waktu muncul ke permukaan penyelam harus selalu melihat ke atas, menggapai dan kemudian muncul perlahan-lahan berputar 360o sambil tetap mengawasi permukaan. Manufer ini penting sekali, terutama pada tahap 10 feet terakhir untuk sampai di permukaan.

Tehnik muncul terkendali (slow ascent)
Penyelam harus selalu naik ke permukaan dengan lambat. Kecepatan aman untuk naik adalah 60 feet per menit. Cara mengetahui kecepatan yang paling mudah adalah melihat gelembung udara yang paling kecil dan tidak boleh mendahului.

Tehnik muncul bebas
Penyelam melakukan surface dive, berenang ke dasar kemudian melepaskan snorkel dan naik ke permukaan secara perlahan-lahan sambil menghembuskan nafas terus-menerus hingga muncul ke permukaan. Posisi kepala menengadah, pandangan dan tangan mengarah ke atas.

Emergency Swimming Ascent (ESA)
Pada saat terjadi udara pada tabung habis, seorang penyelam harus melakukan tehnik muncul darurat dengan cara melepaskan regulator dari mulut, naik ke permukaan secara vertikal dengan perlahan-lahan dan menghembuskan nafas secara terus-menerus hingga mencapai kedalaman 10 feet, pada kedalaman tersebut posisi badan berubah menjadi horizontal, kepala menengadah keatas, tangan mengembang, hingga sampai ke permukaan. Pada keadaan tertentu weight belt dapat dilepas untuk mendapatkan tambahan daya apung positif.

Emergency Free- Ascent Procedure
Jika penyelam kehabisan udara atau SCUBA terjepit sesuatu, dan partner selam terlalu jauh untuk menolong maka lakukan prosedur ini:

Lepaskan peralatan dan objek yang dipegang tangan.
Lepaskan sabuk pemberat.
Jika SCUBA terjepit dan harus ditinggalkan, lepaskan buckle BC pada pinggang, dada, bahu, dan pangkal paha. Keluarkan satu tangan dulu, baru tangan yang lainnya lagi. Metode lain adalah dengan menjungkirbalik tabung scuba di atas kepala dan sehingga kedua tangan langsung terlepas. Pastikan hose tidak menjepit leher.
Jika hanya kehabisan udara, lepaskan objek yang ada di tangan, lepaskan sabuk pemberat, dan kembangkan BC. Jangan melepaskan tabung SCUBA kecuali alasan mutlak.
Jika penyelam tidak sadar, partnernya harus berenag ke arahnya dan mengembangkan BCnya sambil membawa korban keatas. Sabuk pemberat juga dapat dilepaskan. Pegang korban, jangan sampai lepas.
Keluarkan napas selama naik ke permukaan, jangan ditahan dan panik.

Decompression
Jika penyelam diharuskan melakukan Deco Stop, maka berhenti di kedalaman Deco Stop. Masing-masing penyelam atau satu orang dapat menghitung waktu Deco. Setelah waktu Deco tercapai, naik ke permukaan atau stasiun Deco selanjutnya.

Snorkel Clearing
Jika sudah berada dipermukaan, maka bernapaslah dengan snorkel. Hal ini dilakukan karena tabung sudah habis dan menghemat udara.. Untuk mengetahui snorkel masuk air biasanya terdengar air masuk di pipa snorkel di bagian kiri. Snorkel clearing dilakukan melalui dua cara:
Popping
Cara menghilangkan air dari snorkel dengan cara menghembuskan udara ke dalam snorkel sehingga air di dalam snorkel hilang Pertama-tama keluarkan air di. Air akan keluar lewat lubang atas dan katup kuras dan kita dapat bernafas.
Water displacing method
Cara snorkel clearing dengan metode ini sangat membantu, karena tidak perlu meniup udara dengan keras. Pada saat penyelam mendekati permukaan dengan tangan ke atas tengadahkan kepala sehingga ujung atas snorkel mengarah ke bawah dengan menghembuskan secara perlahan dan terus-menerus akan mengakibatkan udara yang dihembuskan menahan air masuk ke snorkel sewaktu penyelam menuju ke atas. Setelah penyelam sampai di permukaan dan posisi berenang, maka ia akan dapat menghirup udara tanpa harus meniup snorkel karena snorkel telah bersih dari air.

Surface and Leaving Water
Ketika sampai ke atas cepat lokalisasi kapal. Baik dengan melihat, mendengar suara propeller. Lihat juga apakah ada penyelam lain yang masih berada di dalam air.
Pada saat penyelam sudah berada di permukaan, namun jauh dari kapal maka penyelam dapat berenang menuju ke kapal. Berhubung penyelam masih menggunakan peralatan selam lengkap, maka cara yang terbaik dan tidak melelahkan adalah dengan mengisi udara ke BC untuk mengurangi beban tersebut dan berenang dengan menggunakan snorkel menuju ke kapal.
Jika ingin naik ke kapal dengan mudah, lepaskan sabuk pemberat dan minta penolong memegangnya. Jika kapal mempunyai tangga, maka lepaskan fin dan naik keatas. JIka menggunakan boat yang kecil, penyelam yang sudah berada di boat harus duduk sehingga tidak membuat kapal oleng.

Keadaan Darurat Penyelaman
Keadaan darurat selalu dimungkinkan terjadi pada setiap penyelaman, betapapun sempurnanya persiapan untuk itu telah dilakukan. Cukup banyak variabel yang dapat diidentifikasikan sebagai faktor penyebabnya. Kondisi penyelaman, panik, cuaca, kedalaman, kerusakan peralatan dan seterusnya. Keadaan ini bila tidak segera ditanggulangi secar a tepat dan cepat sangat potensial menjadi penyebab terjadinya kecelakaan penyelaman.
Ironisnya sebagian besar kecelakaan penyelaman justru terjadi pada saat seorang penyelam sudah mulai merasa berpengalaman (kawakan), merasa cukup mampu menangani masalah penyelaman. Suatu keadaan yang cenderung membuat orang menjadi lengah dan ceroboh. Kelengahan dan kecerobohan di sini mencakup fisik maupun mental. Kelengahan mental menyebabkan “human error” , atau kekhilafan manusiawi yang bila dihadapkan pada kondisi rawan dapat berakibat fatal. Human error / kekhilafan manusiawi, itulah sebab utama terjadinya kecelakaan penyelaman.
Oleh karena itu tetap relevan untuk dianjurkan agar para penyelam senantiasabersedia melatih diri, mempersiapkan diri, briefing, de-briefing, dive planning, check dan re-check peralatan sebelum menyelam, mempelajari kembali prosedur-prosedur baku dalam penyelaman dan sebagainya. Filosofinya, lebih baik belajar mengenali dan menghindari bahaya sebelumnya daripada mengatasi bahaya setelah terjadi, karena hasilnya sangat spekulatif.

Keadaan Tanpa Udara
Dari sekian banyak keadaan darurat yang dapat terjadi setiap kali menyelam, situasi “tanpa udara” merupakan hal yang paling riskan penanggulangannya. Bertahun-tahun orang memperdebatkan jalan atau cara apa yang terbaik untuk dilakukan jika menghadapi keadaan “kehabisan udara” . Pada kenyataannya, tidak ada satu carapun yang dapat disepakati sebagai cara yang memuaskan dan memberikan jaminan keselamatan bagi pelakunya. Persatuan Olah raga Selam Seluruh Indonesia, menawarkan beberapa cara atau prosedur yang dianggap “layak” untuk mengatasi keadaan darurat tersebut.

Cara menghadapi keadaan darurat dibedakan dalam 2 kategori, yaitu:

Dengan “bantuan”
Menghadapi keadaan darurat penyelaman dengan bantuan dibagi menjadi 2 yaitu:
Octopus Assisted Ascent (OAA).
OAA dapat dilakukan dalam hal seorang penyelam memberikan bantuan udara kepada mitranya yang kehabisan udara, melalui “extra second stage” yang lazim disebut “octopus” . Cara ini relatif aman dan mudah pelaksanaannya karena masing-masing penyelam bernapas melalui sebuah “second stage” tersendiri.
Buddy Breathing (BB).
Dilakukan dengan cara bergantian bernapas melalui satu “Second Stage” dari satu regulator dari si penolong (Donor). Hendaknya terus menerus dilakukan sambil naik ke permukaan secara terkendali, karena itu BB sering juga disebut buddy breathing ascent (BBA).

Dengan “Berdikari”
Cara menghadapi keadaan darurat yang terjadi dalam penyelaman, khususnya kehabisan udara, mungkin harus dilakukan sendiri oleh penyelam, dalam hal tidak ada lagi mitra yang bisa dimintai bantuan. Ada dua macam cara “berdikari” yang bisa dilakukan yaitu:
Emergency Swimming Ascent (ESA)
Ini adalah cara menghadapi keadaan darurat secara berdikari yang terpenting, dimana si penyelam yang kehabisan udara berenang ke permukaan secara terkendali sambil terus menerus menghembuskan udara keluar, untuk menjaga agar tidak terjadi pengembangan paru-paru yang berlebihan.
Buoyancy Ascent (BA)
Adalah prosedur “Berdikari” pilihan terakhir. Dilakukan dengan cara membuang weight belt dan menggunakan daya apung positif yang diperoleh dengan mengembangkan BC di kedalaman. Buoyancy ascent dipraktekkan jika penyelam serius meragukan bahwa ia tidak mungkin dapat mencapai permukaan dengan berenang. Buoyancy ascent dari kedalaman sangat berbahaya karena ada kemungkinan gerak laju ke permukaan menjadi tidak terkendali. Buoyancy ascent ini sering disebut pula emergency/exhaling buoyancy ascent.

Apabila sungguh-sungguh menghadapi keadaan darurat dalam arti kehabisan udara, cobalah mengikuti prosedur di bawah ini melalui urutan teratas yaitu:

Berhenti dan berpikir. Hentikan manuver dan berpikir secara wajar tentang situasi yang sedang anda alami;
Hembuskan udara lambat-lambat (kalau masih ada) dan perhatikan SGP.
Jika SGP masih menunjukkan : -adanya tekanan udara, maka tekanlah tombol kuras; – tidak ada tekanan udara, cek katup tabung, mungkin tombol katup masih dalam posisi “off” yang biasanya terjadi pada awal penyelaman.
Usahakan untuk menarik napas lagi kalau masih ada hantaran udara, beri isyarat pada mitra dan jelaskan keadaannya. Bila tekanan udara pada posisi cadangan, hentikan penyelaman dan naik saja ke permukaan.
Bila tidak ada hantaran udara, mintalah mitra untuk melakukan OAA / BB. Bila mitra telah jauh, pilih manuver ESA / EBA (sebagai alternatif terakhir).
Bila mitra tidak bisa diajak komunikasi dan tidak mengerti situasi yang hadapi, maka lakukanlah ESA / EBA sebagai alternatif terakhir.

Postdive Procedures
Setelah semua meninggalkan penyelaman lakukan briefing ulang mengenai:
Tujuan yang telah dicapai.
Hambatan dan masalah yang terjadi.
Kondisi fisik penyelam.
Kerusakan peralatan.
Setelah semua mencapai tempat maka peralatan harus dibersihkan dan disimpan sesuai prosedur.
Logging penyelaman
Membiasakan penyelam membuat catatan setelah selesai acara latihan, secara cermat tentang :
kedalaman;
bottom time;
jarak pandang;
temperature;
repetitive dive
Catatan tersebut ditulis pada sebuah buk u yang wajib dimiliki oleh setiap penyelam yang lazim disebut “Diver Log Book”.

Isyarat pada Penyelaman


Isyarat
Isyarat sangat diperlukan untuk dapat berkomunikasi di dalam air maupun dari dalam air dengan permukaan. Macam isyarat tersebut antara lain isyarat tangan, penglihatan, suara, sentuhan, dll. Semua isyarat dapat dipergunakan disesuaikan dengan kondisi saat itu.
Pengetahuan tentang isyarat dalam penyelaman mempunyai tujuan untuk mempermudah komunikasi antar penyelam sehingga kegiatan penyelaman akan mencapai kesuksesan, aman, dan selamat. Untuk itu adakan kesepakatan berkomunikasi dengan mitra sebelum memulai penyelaman.
Isyarat paling sederhana dan praktis adalah isyarat tangan, untuk itu setiap penyelam dianjurkan mengetahui arti dari isyarat tangan tersebut. Dengan demikian, komunikasi di dalam air menjadi mudah dan pesan dapat disampaikan dengan tepat.

Sumber:
USN Diving manual 6th
Sumber elektronik

http://apiptegal.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=151&action=edit

segenap crew apiptegal outdoor provider mengucapkan SELAMAT BERPUASA

SELAMAT MENUNAIKAN BADAH PUASA

 puasa

puasa


HIKMAH PUASA RAMADHAN

Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (S.al-Baqarah:183)

PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.

Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.

Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:”Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan:” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.”Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:

“Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.”
(H.R.Ibnu Khuzaimah)

Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.

Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan
rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.

Allah berfirman yang maksudnya:

“Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (s.al-A’raf:31)

Nabi s.a.w.juga bersabda:

“Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang.”

Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah kita akan bertemu kembali.

Allah berfirman yang maksudnya: “Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran
pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran
itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa.

(s.al-Baqarah:185)

masyarakat relawan indonesia

relawan bencana

relawan bencanarelawan

Pengenalan MRI

MRI merupakan kepanjangan dari Masyarakat Relawan Indonesia (Indonesian Volunteer Society). Kontruksi MRI terdiri dari 3 penggal kata, yaitu : Masyarakat, Relawan, dan Indonesia.
Read the rest of this entry

foto kegatan

pelathan SAR

pelathan SAR

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.